QUNUT NAZILAH & SEJARAHNYA
QUNUT NAZILAH & SEJARAHNYA
QUNUT secara bahasa mempunyai makna beragam, yaitu ketaatan, shalat, berdiri lama, diam, dan berdoa.
Beliau Al Imam Abi Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi menjelaskan bahwa makna qunut adalah berdoa. Doa yang baik maupun doa yang buruk.
Sementara arti Qunut secara syar’i, adalah nama suatu doa yang dibaca saat berdiri dalam shalat pada tempat tertentu (I'tidal yang terakhir dalam Sholat).
Adapun NAZILAH mempunyai arti musibah besar yang menimpa manusia seperti diserang musuh, kekeringan, pandemi (wabah penyakit yang berjangkit di mana-mana atau meliputi daerah geografis yang luas), Bahaya besar yang menimpa kaum Muslimin dan semisalnya.
Sehingga arti "QUNUT Nazilah" adalah, do'a Qunut yang dibaca saat adanya Malapetaka, Bencana & Wabah yang sedang Allah turunkan ke bumi ini.
A. Sejarah Qunut Nazilah
Dalam catatan Sejarah, Qunut Nazilah pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pasca tragedi Bir Ma’unah (tragedi pembunuhan 70 sahabat Nabi yang Ahli membaca Al Qur'an atau Qurra') pada bulan Shafar ke-4 Hijriyah (Mei 625 H).
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik dikisahkan, Rasulullah SAW membaca doa qunut nazilah saat mendengar kematian para sahabatnya rombongan Al-Qurra (orang-orang yang Ahli membaca Al Qur'an).
Rombongan tersebut awalnya adalah bantuan yang dikirim Rasulullah SAW pada kaum Ri'il, Dzakwan, Ushoyyah, dan Bani Lahyan. Namun kaum tersebut berkhianat dengan membunuh rombongan Al-Qurra tersebut.
Rasulullah SAW diceritakan sangat sedih mendengar berita tersebut, sehingga beliau membaca doa qunut setiap sholat Fardhu selama satu bulan, dalam rangka memohon perlindungan kepada Allah dari kaum musyrikin dan sekaligus memohon keadilan kepada Allah atas Kedholiman mereka.
Beliau berdoa agar Allah memberikan balasan kepada para pelakunya, diantaranya yaitu Amir bin Thufail karena telah menghabisi 70 nyawa kaum muslimin Ahli Qurra' yang diutus oleh Rasulullah utk mengajarkan Islam kepada mereka. dari 70 sahabat yang lolos hanya satu orang, yakni Amr bin Umayyah, dalam riwayat lain Muhammad bin Uqab.
Dan do'a Rasulullah dikabulkan oleh Allah SWT. ketika Amir bin Thufail menuju Madinah untuk membunuh Nabi SAW, ia singgah di rumah seorang perempuan yang terkena penyakit menular. Lalu Amir pun tertular dan meninggal di tengah padang pasir.
Doa itulah yang kemudian disebut dengan doa qunut nazilah dan terus diamalkan kaum muslimin hingga kini, terutama ketika sedang menghadapi Bahaya, Malapetaka atau Wabah yang melanda dunia seperti saat ini.
Sahabat Anas bin Malik R.A. telah menceritakan hal ini dalam sebuah Hadits :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رِعْلًا، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ، وَبَنِي لَحْيَانَ، اسْتَمَدُّوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَدُوٍّ، فَأَمَدَّهُمْ بِسَبْعِينَ مِنَ الأَنْصَارِ، كُنَّا نُسَمِّيهِمْ القُرَّاءَ فِي زَمَانِهِمْ، كَانُوا يَحْتَطِبُونَ بِالنَّهَارِ، وَيُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ، حَتَّى كَانُوا بِبِئْرِ مَعُونَةَ قَتَلُوهُمْ وَغَدَرُوا بِهِمْ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَقَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو فِي الصُّبْحِ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ، وَبَنِي لَحْيَانَ» قَالَ أَنَسٌ: " فَقَرَأْنَا فِيهِمْ قُرْآنًا، ثُمَّ إِنَّ ذَلِكَ رُفِعَ: بَلِّغُوا عَنَّا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا "
Artinya:
"Dari Anas bin Malik, bahwa (suku) Ri'il, Dzakwan, Ushoyyah, dan Bani Lahyan meminta bantuan orang kepada Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan bantuan 70 orang Anshor. Kami menyebut mereka sebagai Qurra' (Para hafizh) di zaman mereka. Kebiasaan Qurra' ini adalah mencari kayu bakar di siang hari dan melaksanakan shalat lail di malam hari. Ketika 70 orang Anshor ini berada di Bi'ir Ma'unah, mereka dibunuh dan dikhianati oleh suku Ri'il, Dzakwan, Ushoyyah, dan Bani Lahyan. Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , maka Beliau melakukan Qunut Nâzilah selama sebulan pada shalat Shubuh mendoakan kecelakaan terhadap suku-suku Arab itu, yaitu Ri'il, Dzakwan, Ushoyyah, dan Bani Lahyan. Anas berkata, "Kami pernah membaca ayat Qur'an diturunkan tentang orang-orang yang dibunuh tersebut, kemudian ayat tersebut dihapus. (Yaitu ayat): "Sampaikanlah kepada kaum kami, bahwa kami telah bertemu dengan Rabb kami, maka Dia ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Nya." (HR Al-Bukhari).
B. Hukum Qunut Nazilah Menurut mazhab Syafi’i
Hukum qunut nazilah adalah sunnah ketika terjadi malapetaka atau bahaya yang menimpa kaum muslimin atau sebagiannya.
Sedangkan waktu pelaksanaannya adalah ketika berdiri bangun dari ruku’ (i’tidal) pada Roka'at yang terakhir dalam kelima shalat fardhu.
C. Perlukah mengeraskan suara?
Menurut Imam An-Nawawi, baik shalat yang sunnah bersuara pelan yaitu Zuhur dan Asar, atau yang sunnah bersuara keras yaitu Maghrib dan Isya, hukumnya sama seperti doa qunut shalat subuh.
Yaitu untuk Imam menurut qaul ashah sunnahnya dengan suara keras, sedangkan untuk orang yang shalat sendirian (munfarid) sunnahnya dengan suara pelan, dan untuk makmum bila mengikuti qaul ashah, maka sunnahnya mengamini doa qunutnya imam dan tidak sunnah membaca qunut sendiri.
Menurut mazhab Syafi’i tidak ada redaksi doa qunut nazilah tertentu, sehingga dapat dilakukan dengan berbagai macam doa sesuai konteksnya.
Namun sunnahnya adalah dengan membaca doa qunut subuh yang sangat sudah diketahui oleh mayoritas Ummat Islam.
REFRENSI :
1. AL MAJMU' SYARH MUHADZAB JUZ 3 Hal 492 Karya As Syaikh ABI ZAKARIA YAHYA ibnu SYARF AN - NAWAWI
واما غير الصبح من المكتوبات فهل يقنت فيها فيه ثلاثة اقوال حكاها امام الحرمين والغزالي وآخرون (الصحيح) المشهور الذى قطع به الجمهور ان نزلت بالمسملين نازلة كخوف أو قحط أو وباء أو جراد أو نحو ذلك قنتوا في جميعها وإلا فلا
(والثانى)يقنتون مطلقا حكاه جماعات منهم شيخ الاصحاب الشيخ أبو حامد في تعليقه ومتابعوه
(والثالث) لا يقنتون مطلقا حكاه الشيخ أبو محمد الجويني وهو غلط مخالف للسنة الصحيحة المستفيضة " ان النبي صلي الله تعالي عليه وسلم قنت في غير الصبح عند نزول النازلة حين قتل اصحابه القراء
2. MINHAJ AL-QOWIM Karya Al Imam SYIHABUDDIN AHMAD ibnu HAJAR AL-HAITAMI
"والجهر به للإمام" في الجهرية والسرية للاتباع ولكن الجهر به دون الجهر بالقراءة، وأما المنفرد فيسر به مطلقًا. "وتأمين المأموم" جهرًا إذا سمع قنوت إمامه "للدعاء" منه ومن الدعاء الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيؤمن لها. "ويشاركه في الثناء" سرًا وهو: فإنك تقضي ولا يقضى عليك ... إلخ, فيقوله سرًا أو يقول: أشهد أو بلى وأنا على ذلك من الشاهدين أو نحو ذلك أو يستمع والأول أولى. "و" يسن "قنوته" سرًا "إن لم يسمع قنوت إمامه" كبقية الأذكار والدعوات التي لا يسمعها "ويقنت" ندبًا "في" اعتدال الركعة الأخيرة من "سائر" أي باقي "المكتوبات للنازلة" إذا نزلت بالمسلمين أو بعضهم إن عاد نفعه عليهم كالعالم والشجاع1 والخوف من نحو عدو ولو من المسلمين والقحط والجراد والوباء والطاعون ونحوها لما صح أنه صلى الله عليه وسلم فعل ذلك شهرًا لدفع ضرر عدوه عن المسلمين، وخرج بالمكتوبة النفل والمنذورة وصلاة الجنازة فلا يسن فيها
Wallahu a’lam bis Showab.
H. LUQMAN HAKIM, M. Pd.
(Ketua II IPIM Batam)

0Komentar